Chameleons, Lingkaran, dan Adaptasi Sosial: Eksplorasi Seni Apin

Industri seni Indonesia terus berkembang. Mulai dari musik, kita punya banyak talenta muda yang dikenal hingga mancanegara, tarian daerah juga terus meregenerasi, hingga seni lukis dan patung yang bergaya muda, berwarna cerah, dari seniman-seniman baru. Hal ini dibuktikan saat saya mengunjungi Art Jakarta Gardens 2024. Saya menemukan banyak karya menarik dan out of the box.

 

Pertama saya berkeliling area luar ruangan Hutan Kota by Plataran, Jakarta. Setelah puas menikmati 30 karya patung di jantung Art Jakarta pada Sculpture Gardens, saya masuk ke dua tenda putih yang kebanyakan berisi karya lukis. Ada satu lukisan yang menarik bagi saya. Kebetulan, pihak gallery Facade memperkenankan saya untuk berkenalan langsung dengan sang maestro bernama Apin.

(Foto: Dokumen Pribadi)

Seniman muda ini telah menarik perhatian saya dengan karakter “teddy bear” yang membawa skateboard berlogo “LV”. Apa maksud “teddy bear” skena ini? Kenapa LV? Itu yang muncul pertama dibenak saya. Melalui sentuhan uniknya, Apin telah berhasil mengikat perhatian saya dengan karyanya. 

 

AWAL PERJALANAN:

Apin lahir pada 11 Agustus 1997 dan besar di sebuah desa kecil bernama Tengah Sawah di Bukit Tinggi, Sumatra. Dari Sekolah Dasar (SD), Apin sudah ikut lomba-lomba menggambar dan menunjukkan minat besar dalam seni. Meskipun lingkungan sekitarnya tidak ada darah seni, semangatnya untuk berkarya mengalir dan tidak pernah pudar. 

(Foto: Dokumen Pribadi)

Tahun 2017, usai tamat Sekolah Menengah Atas (SMA), Apin memilih untuk melanjutkan pendidikannya di Institut Seni Indonesia (ISI) di Jogja. Ia mencoba berbagai teknik, mendalami teori-teori, dan terus mengembangkan keterampilannya. Setahun setelah mengemban ilmu, Apin teringat akan satu pepatah - “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” yang berarti bawah seorang individu seharusnya mengikuti adat istiadat yang berlaku di mana ia hidup. Hal ini selaras dengan apa yang sedang Apin lalui yaitu merantau dari Bukit Tinggi ke Jogja. 

“Bahasa Minangnya; Dimano bumi dipijak, disinan langik dijunjuang,” tutur Apin. 

Apin memilih hewan chameleons sebagai dasar idenya. Tidak seperti bunglon yang hanya berubah warna menyesuaikan tempat, chameleons ini juga menyesuaikan ke perasaan yang dialami. Apin menceritakan bahwa, hewan ini yang paling sesuai dengan pepatang tersebut. “Satu spesien dengan bunglon, tapi beda jenis. Kalo si bunglon itu berubah warna waktu terancam aja, kamuflasenya. Sedangkan si chameleon itu berbeda. Dia sesuai tinggkat emosi dia juga, dan kamuflase juga, dan kalau ketemu lawan jenis dia bakal berubah juga, sesuai moodnya. Aku terpancing. Ini lebih menarik untuk diangkat.”

Kalau Anda lihat karya Apin yang sekarang, perlahan sudah membentuk karakter. Namun, jauh sebelum itu, Apin menceritakan awalnya karyanya hanya berbentuk chameleon. Berkembang menjadi simbol-simbol; lingkaran, setengah lingkaran, hingga ke objek seperti kursi dan telur. 

(Foto: Dokumen Pribadi)
(Foto: Dokumen Pribadi)

“Nah ternyata semakin asik tuh, (banyak) yang bisa diangkat. Tapi agak sedikit susah untuk menceritakan sesuatu yang sangat related sm aku. Akhirnya aku baca lagi buku seni rupa segala macam.”

Sampai akhirnya Apin mendapatkan ide dari adaptasi sosial, yang kita semua pasti lakukan dan rasakan. Konsep adaptasi ini pun selaras dengan skripsi terdahulu mas Apin. 

(Foto: Dokumen Pribadi)

Terinspirasi dari karya-karya Yayoi Kusama, konsep adaptasi ini di blend dengan kulit chameleons. Apin tuang dalam simbol lingkaran yang identik dengan simbol sosial. 

“Orang yang trypophobia agak sedikit terfokus di sana, jadi mengganggu. Akhirnya aku bikin telinga dan badan. Jadilah visual manusia.”

Seniman pria muda yang sekarang menetap di Jogja ini terus memaksimalkan karyanya. Saya melihat kaya terdahulunya di 20218, hingga tahun ini, 2024, Apin pamerkan di Art Jakarta Gardens, karakter yang diciptakannya sudah semakin luas. Belum memiliki nama, tapi karya keren ini diimpikan bisa membawa Apin ke kancah internasional dan dilihat dunia. Apin juga berharap bisa bekerjasama dengan brand besar. 

(Foto: Dokumen Pribadi)

Sebenarnya di Art Jakarta pada bulan November 2023 lalu, pecinta anime ini sudah memberikan sedikit bocoran koleksi terbarunya yang sedang dipersiapkan untuk tahun 2025 nanti. Ada yang notice karya ini?

Foto: Instagram @apinpn

Ini adalah salah satu karya yang sedang terus dikembangkan Apin. Nantinya karakter ini akan punya nama, menjadi satu kesatuan keluarga, dan punya karakter masing-masing. Jadi ga sabar lihat keluarga besar ini rampung di 2025. 

APIN DAN ART JAKARTA:

Art Jakarta telah memberi kesempatan bagi seniman-seniman muda seperti Apin. Terwujud sudah harapan Art Jakarta, di mana pertemuan pembuat karya dan pecinta karya bertemu. 

“Mungkin dengan acara Art Jakarta Gardens kemarin, harapan (saya) pencinta seni dan kolektor pun semakin berkembang. Pengennya sih kaya gitu. Pengen jadi banyak dan akhirnya seni bisa hidup lagi. Kemarin itu udah bagus banget hahaha,” ujar Apin saat ditanya mengenai harapannya untuk AJG.