Ego-estrian

Common Sense

Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk belajar berkuda. Tentu ini adalah suatu yang baru bagi saya. Dapat dikatakan ketika saya kecil saya tidak memiliki rasa penasaran akan suatu olah raga. Saya masih ingat ketika duduk di bangku SD dulu saya selalu mencari alasan untuk tidak mengikuti mata pelajaran olah raga. Bagi saya berkeringat itu menyebalkan, karena panas, kotor dan bau.

 

Mungkin dapat dikatakan saya adalah orang yang sangat pembersih, bahkan sanking bersih dan rapihnya bisa membuat jengkel semua orang. Tetapi seiring berjalannya waktu kebiasaan itu berubah, saya yang ketika kecil tak menyukai berolah raga kini justru selalu penasaran dengan setiap olah raga. Karena ternyata di balik mempunyai tubuh yang sehat sekaligus melepaskan stress, ada filosofi tersendiri dari setiap olah raga.

 

Satu hal yang saya dapat dari sesi berkuda adalah bahwa ketika kita duduk diatas kuda, tubuh kita diibaratkan sebuah flash disk. Sementara kuda tersebut adalah sebuah komputer. Artinya sang kuda tersebut dapat membaca seluruh energi dari tubuh yang kita miliki. Ketika kita tidak percaya diri, takut ataupun dalam emosi yang tidak stabil, maka performa yang ia berikan pun akan sama dengan apa yang kita pancarkan. Maka kordinasi antara si penunggang dan kuda pun tak akan menyatu.   

 

Berulang kali sang pelatih berkuda saya hari itu mengingatkan bahwa saya harus mengendalikan emosi. Karena kunci dalam berkuda adalah feel. Sang pelatih pun mengatakan bahwa ketika diatas kuda sebisa mungkin ketika mengenggam tali pengendali, harus ringan (weightless) tanpa beban. Karena ketika kita mengenggam rein (tali kendali) tersebut dengan keras justru akan memberikan sinyal yang buruk kepada sang kuda.

 

Maka itu jika olahraga yang satu dikenal sebagai olahraga yang melatih core, paha, keseimbangan, koordinasi dan postur tubuh. Bagi saya olahraga yang satu ini justru lebih dari itu, karena olahraga ini justru mengajarkan kita untuk menurunkan ego. Karena saat kita berada diatas kuda jika kita tidak menurukan ego kita maka kordinasi kita dengan sang kuda akan berjalan tidak baik.

 

Sementara sebagai seorang manusia yang paling sulit adalah menurunkan ego, apalagi ketika kita sedang berada diatas. Ibarat seseorang yang sedang berada di puncak karier atau kekuasaan akan sangat sulit untuk bisa menurunkan ego-nya , maka yang terjadi kordinasi dengan individu disekelilingnya akan terasa sulit. Benar kan?!

 

 

Photo by Nayef Alenezi – Pexels.com