From Paris to Jakarta: A New Fashion Dialogue at JF3 2026

Membawa perspektif dari salah satu pusat mode dunia, deretan desainer Prancis turut memperkaya percakapan kreatif di JF3 2026.

Jika runway adalah panggung untuk menunjukkan ke mana fashion bergerak, maka BRI - JF3 Fashion Festival 2026 kembali membuktikan bahwa ia ingin menjadi ruang tempat pergerakan itu dimulai. Memasuki tahun ke-22 sejak pertama kali digelar pada 2004, JF3 semakin menegaskan perannya sebagai sebuah ekosistem yang mempertemukan desainer, talenta muda, institusi pendidikan, industri, hingga pasar. Tahun ini, melalui tema Recrafted: Shaping the Future, JF3 tak hanya berbicara tentang apa yang dikenakan di atas runway, tetapi tentang bagaimana fashion Indonesia dapat terus tumbuh, berevolusi, dan mengambil tempat dalam percakapan mode global.

Salah satu momen yang mencuri perhatian datang dari kehadiran sejumlah desainer Prancis dalam rangkaian Les Échos: Craft Across Cultures. Louise Marcaud, Rohan Mirza, TAREET, 30%70, hingga kolaborasi antara desainer Prancis dan para PINTU Residents memperlihatkan bagaimana perspektif Prancis bertemu dengan craftsmanship dan identitas Indonesia dalam satu panggung. Bahkan, presentasi tersebut kembali di-re-see beberapa hari kemudian, sebuah penanda bahwa kehadiran mereka bukan sekadar cameo internasional dalam kalender JF3.

Lebih dari membawa nama-nama dari Paris ke Jakarta, pertemuan ini membuka ruang untuk saling mengamati. Bagi desainer Indonesia, kehadiran talenta Prancis dapat menjadi semacam benchmark—bukan untuk ditiru, melainkan dipelajari: bagaimana sebuah gagasan diterjemahkan menjadi desain, bagaimana craftsmanship diposisikan, bagaimana identitas dibangun, hingga bagaimana sebuah label mempersiapkan diri untuk berbicara kepada pasar yang lebih luas. Sebagaimana JF3 sendiri menekankan, kolaborasi internasional hadir untuk mempertemukan standar, pengetahuan, produksi, dan strategi pasar, sehingga potensi lokal tidak berhenti sebagai potensi semata.

Di saat yang sama, pertukaran ini berjalan dua arah. Jika desainer lokal mendapatkan kesempatan untuk melihat lebih dekat praktik dan perspektif dari salah satu pusat mode dunia, para desainer Prancis pun menemukan Indonesia sebagai ruang dengan kekayaan material, craftsmanship, dan budaya yang tidak kalah kompleks. Program PINTU, yang menjadi salah satu jembatan kolaborasi Indonesia–Prancis, memperlihatkan bahwa hubungan tersebut tidak berhenti pada satu kali presentasi, melainkan dibangun melalui residensi, inkubasi, dan pertukaran kreatif.

Membawa perspektif dari salah satu pusat mode dunia, berikut deretan desainer Prancis yang turut memperkaya percakapan kreatif di JF3 2026.

Rohan Mirza: Stonehaven

Terinspirasi dari peta Stonehaven dalam Call of Duty, koleksi Spring/Summer 2026 ini mengubah reruntuhan kastil menjadi ruang untuk merayakan bentuk-bentuk kedekatan yang lahir di era digital: komunitas yang dipilih, hubungan virtual, hingga ikatan emosional yang tak selalu membutuhkan pertalian darah. Siluetnya yang membulat, lembut, dan nyaris seperti mainan mempertemukan kesan rapuh dengan protektif, seolah setiap busana menjadi semacam armor baru—bukan untuk berperang, melainkan untuk menjaga koneksi dan tenderness.

Di tangan Rohan Mirza, referensi internet dan budaya populer tidak berhenti sebagai gimmick visual, tetapi menjadi cara untuk membaca bagaimana generasi hari ini membangun rasa memiliki. Figur vampir yang berulang dalam koleksi justru dibalik maknanya: darah bukan lagi simbol kematian, melainkan metafora bagi keinginan untuk berbagi sejarah, memori, dan kehidupan bersama. Stonehaven terasa seperti ajakan untuk menemukan kembali keintiman di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi. Sebuah ruang di mana fashion menjadi medium untuk membentuk “klan” baru, sekaligus merayakan keunikan setiap individu di dalamnya.

Louise Marcaud: Louiseguard

Louise Marcaud kembali ke Jakarta bukan sekadar membawa koleksi baru, tetapi membawa pulang fragmen-fragmen dari kunjungannya sebelumnya. Melalui Louiseguard Spring/Summer 2027, lurik, batik, kemasan sehari-hari hingga memori menyaksikan tari Ramayana diolah menjadi palet, motif, dan detail yang kemudian berkelindan dengan dunia kolam renang dan figur lifeguard. Hasilnya adalah wardrobe yang terasa seperti musim panas yang terus bergerak antara liburan dan seragam; tailoring bergaris mengingatkan pada kursi pantai dan payung poolside, sementara knitwear, bikini, bermuda, hingga gaun ringan membangun kisah romantis yang sepenuhnya imajiner.

Yang menarik, Louise tidak mencoba menerjemahkan Indonesia secara harfiah. Ia justru membiarkan pengalaman personalnya bertemu dengan bahasa desain Prancis melalui material yang ia temukan sendiri selama berada di Jakarta. Kain-kain tersebut kemudian diproduksi dalam jumlah terbatas di Paris, menciptakan pertemuan yang intim antara craftsmanship Indonesia dan teknik tailoring Prancis. Louiseguard terasa seperti sebuah travel diary yang dikenakan. Bukan tentang Indonesia sebagai destinasi eksotis, melainkan tentang bagaimana sebuah tempat dapat meninggalkan jejak personal dan, bertahun-tahun kemudian, berubah menjadi pakaian.

Fengyuan Dai - 30%70: Genderless and Poetic

Fengyuan Dai melalui 30%70 menawarkan pendekatan yang lebih tenang, namun justru terasa kuat di tengah riuhnya fashion kontemporer. Berangkat dari pengalaman satu dekade di sejumlah rumah mode ternama Paris, Dai membangun sebuah genderless wardrobe yang mempertemukan dua sisi yang kerap dianggap berseberangan: Timur dan Barat, tradisi dan modernitas, hingga kenyamanan dan ketelitian tailoring. Nama 30%70 sendiri menjadi metafora atas gagasan bahwa keseimbangan tidak harus selalu setara, justru dari ketidakseimbangan kecil itulah karakter dan harmoni dapat muncul.

Ada sesuatu yang sangat personal dalam cara Dai memperlakukan pakaian sebagai ruang pertemuan budaya. Material natural, tekstil daur ulang, eksperimen artisanal, serta siluet yang lembut dan nyaman menjadi medium untuk menerjemahkan gagasan tersebut tanpa terasa terlalu konseptual. 

TAREET x DENIMITUP: FAS DELMAN

Kolaborasi antara label Prancis TAREET dan label Indonesia DENIMITUP melalui FAS DELMAN berangkat dari sebuah pertemuan yang terasa sederhana, namun menyimpan banyak lapisan: persinggungan budaya Indonesia dan Senegal. Alih-alih melihat perbedaan sebagai jarak, koleksi ini justru mencari kemiripan di antara keduanya, lalu menerjemahkannya ke dalam sebuah wardrobe hibrida. Kuda dipilih sebagai simbol bersama, mengingat perannya yang historis sebagai alat transportasi sekaligus bagian dari kehidupan sehari-hari di kedua budaya.

Hadir dalam 19 look streetwear kontemporer, FAS DELMAN menerjemahkan kembali busana tradisional melalui siluet-siluet hibrida yang terasa dinamis dan relevan. Elemen twist menjadi ciri utama koleksi, terinspirasi dari volume mengalir pada djellaba Senegal ketika tubuh bergerak, lalu diolah menjadi bentuk-bentuk streetwear yang lebih dekat dengan keseharian. Pertemuan pendekatan modern DENIMITUP dengan estetika Afro-European milik TAREET menghasilkan permainan konstruksi, gerak, dan proporsi yang terasa segar.

_______

Pada akhirnya, kehadiran desainer Prancis di BRI - JF3 Fashion Festival 2026 terasa seperti percakapan yang lebih besar tentang posisi Indonesia sendiri. Ketika sebuah festival di Jakarta mampu mempertemukan perspektif lokal dengan talenta dari luar negeri, sekaligus memberikan ruang bagi desainer Indonesia untuk melihat, membandingkan, dan merespons standar global, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia siap menjadi bagian dari percakapan mode dunia. Mungkin, percakapan itu justru sudah berlangsung, dan JF3 sedang membangun panggungnya.

Foto: Dokumentasi Resmi BRI - JF3 Fashion Festival 2026