Layaknya bahasa, Jonathan Anderson memandang proses menciptakan koleksi haute couture seperti mempelajari sebuah bahasa baru. Aturan, teknik, dan tradisi menjadi fondasi yang kemudian diolah menjadi berbagai gagasan baru. Di tangan para artisan Dior, gagasan tersebut diwujudkan melalui proses pengerjaan yang saksama, menjadikan koleksi couture sebagai medium yang mampu mengubah sebuah ide menjadi karya nyata.
.jpg)
Pandangan tersebut kemudian melahirkan Grammar of Forms, sebuah pameran yang menampilkan koleksi haute couture kedua Jonathan Anderson untuk rumah mode Dior. Koleksi ini berangkat dari salah satu arsip terpenting Christian Dior yang mengubah cara perempuan berpakaian pada era pasca Perang Dunia ke-2. New Look, yang diperkenalkan pada 1947, menghadirkan konstruksi baru dengan pinggang yang ramping, rok ber-volume, serta struktur internal seperti korset dan padding untuk membentuk proporsi tubuh. Pendekatan yang menyerupai proses merancang arsitektur tersebut kemudian menjadi salah satu identitas paling ikonik dalam sejarah rumah mode Dior.

Selain menelusuri arsip Dior, Anderson juga mengambil inspirasi dari karya seniman patung asal Amerika, Lynda Benglis. Sebagai salah satu figur penting dalam perkembangan seni kontemporer sejak era post-minimalism, Benglis dikenal melalui karya-karyanya yang seolah membekukan pergerakan dalam satu momen. Ia mengeksplorasi hubungan antara tubuh dan gestur melalui berbagai material, mulai dari bronze, kertas, lilin, lateks, busa, hingga glitter, dengan memanfaatkan karakter alami setiap material untuk turut membentuk hasil akhir setiap karyanya.
.jpg)
Pendekatan tersebut kemudian diterjemahkan Anderson ke dalam Grammar of Forms melalui eksplorasi teknik dan konstruksi, seperti pleating, knotting, draping, hingga embellishment digunakan untuk membangun siluet yang terasa skulptural. Sementara “manipulasi” material menciptakan ilusi visual sehingga menyerupai kertas, logam, maupun plester. Permukaan busana kemudian disempurnakan dengan bordir dan payet yang mengingatkan pada penggunaan cat dan glitter dalam berbagai karya Benglis.
Melalui koleksi ini, Jonathan Anderson menunjukkan bagaimana haute couture mampu menerjemahkan sebuah konsep artistik melalui perpaduan antara eksperimen material dan keahlian para artisan, mewujudkannya menjadi karya yang dapat dikenakan.