Kepahitan

Common Sense

Judul diatas bukan mengenai bercerita mengaenai secangkir kopi yang terasa pahit, atau pun jamu racikan yang dapat menyembuhkan penyakit. Melainkan suatu perjalanan kehidupan seseorang yang dianggap pahit. Kejadian dalam kehidupan yang problematik seringkali membuat seseorang menjadi tumbuh berbeda antara satu dan lainnya.

 

Dari serangkaian anak-anak yang hidup di kota besar seperti Jakarta ini, seringkali membuat orang di kota ini memiliki surviving mode yang beraneka ragam pula. Suatu hari saya dipertemukan dengan dua orang dengan dua latar belakang yang berbeda, walaupun mereka sama-sama tumbuh besar di pemukiman yang sama.

 

Sebut saja si A yang merupakan seorang anak tunggal yang hidup di kelas sosial B (menengah), sementara si B yang merupakan seorang anak pertama dari enam orang bersaudara, yang juga hidup di kelas sosial B. Keduanya dapat dikatakan sama-sama memiliki ruang lingkup dan gaya hidup yang sama. Namun dikarenakan kondisi rumah yang berbeda, semisalnya B yang jauh lebih ramai dikarenakan saudara kandung yang banyak, sementara A tidak memiliki sama sekali. Kerap menjadikan mereka dua pribadi yang berbeda ketika dewasa.

 

Kesendirian mungkin menjadi cikal bakal dari pembentukan karakter diri masing-masing. Karena B memiliki terlalu banyak saudara maka ia memisahkan diri untuk bersekolah dan bekerja diluar kota, demi mencari ketenangan. Sementara A lebih memilih menetap di kota tempat ia dibesarkan dengan alasan untuk menemani kedua orang tuanya. Ketika mereka berusia 30-an kedua orang ini bertemu. Mereka telah menjadi manusia yang berbeda.

 

Mereka dapat dikatakan sama-sama pribadi yang mandiri, namun pembawaan mereka yang berbeda. Kedua manusia ini sama-sama memilki surviving mode dengan metodenya masing-masing dalam menghadapi kepahitan hidup bagaimana harus berjuang hidup untuk dirinya sendiri. Dapat dikatakan A harus menghadapi isi rumah yang sepi tanpa saudara kandung, artinya ia tidak memiliki tempat untuk berkeluh kesah. Sementara B harus jauh dari keluarga untuk bekerja dan bersekolah. Kedua orang ini tumbuh dalam kondisi harus berdamai dengan keadaan. Dari dua orang ini saya melihat bahwa setiap orang pasti akan belajar bertahan dari suatu kepahitan, maka tak selamanya pahit kehidupan itu akan membuahkan trauma, karena justru dari kepahitan tersebut dua orang tersebut menjadi sosok yang mandiri dan dapat berdamai dengan kehidupannya.

 

 

Foto: Maciek Dostatni