Life Goals

Common Sense

Membicarakan kesuksesan bersama orang terdekat seperti teman atau sahabat, apakah mereka akan memiliki sudut pandang yang sama dengan kita? Karena orang yang paling dekat dengan kita sesungguhnya sangat mengetahui baik dan buruk mengenai kita. Jadi apabila mengutarakan mengenai keberhasilan kita, belum tentu mereka sepemikiran dengan kita.

 

Misalnya ketika Anda berusia dua puluh tahun, Anda sudah mampu membeli mobil dari hasil pekerjaan freelance Anda. Untuk orang-orang yang tidak mengenal Anda dengan dekat, pasti mereka akan mengatakan bahwa betapa hebatnya Anda. Tetapi orang yang dekat dengan Anda justru melihatnya tidak begitu, semisal mereka akan menilai bahwa kemungkinan Anda mendapatkan mobil itu tidak seratus persen hasil dari bekerja, melainkan bantuan dari orang tua.

 

Mengapa demikian, hal ini dikarenakan mereka melihatnya lebih dalam, yang mana disatukan dengan analisis adanya background lain yang mereka kenal. Sehingga penilaian inilah yang jadinya tidak murni. Orang yang lebih lama mengenal Anda, telah mengetahui seluk beluk mengenai diri Anda. Artinya validasi diri yang Anda harapkan dari orang, sebenarnya tidak datang dari orang terdekat.

 

Seringkali saya mendengar mengenai seseorang yang mempersalahkan keadaan dikarenakan kondisi di rumah tidak seperti yang mereka harapkan. Alasan tidak mendapatkan kepercayaan orang tua atau perlakuan tidak adil dari orang tua, sehingga menimbulkan kecemburuan antara saudara sekandung. Dari perlakuan-perlakuan inilah yang menjadi background bahwa mengapa seseorang mencari hal yang tidak ia dapatkan di dalam rumah, menjadi alasan untuk dicari diluar rumah. Yang berujung menjadi validasi diri.

 

Seseorang butuh pengakuan dari orang lain bahwa dirinya hebat, sukses dan unggul. Bahkan segala cara diupayakan untuk mendapatkan pengakuan tersebut. Bahkan ragam pujian yang membanjiri halaman komentar dalam postingan Instagram pun menjadi amat penting. Karena validasi itu membuat aman kejiawaan seseorang. Seakan komentar positif dan pujian ibarat ‘makanan’ wajib, dan bila hal tersebut berkurang jumlahnya akan menjadi insecure dan kecil hati.

 

Lantas yang menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang tersebut sebenarnya dari mana? Berapa jumlah pujian di kolom komentar, di usia berapa mampu membeli mobil pribadi, atau jumlah aset yang telah dimiliki ketika menginjak usia 40 tahun? Karena sebenarnya hal-hal tersebut yang saya sebutkan sebelumnya hanyalah validasi dari orang lain. Kesuksesan Anda bukan berdasarkan prestasi, validasi orang lain, atau aset yang melimpah. Karena kesuksesan sesungguhnya adalah ketika Anda sudah merasa cukup. kesuksesan tersebut adalah ketika Anda merasa nyaman dengan diri sendiri, kesuksesan tersebut adalah ketika Anda telah accept dengan apa yang Anda miliki dan Anda berlapang dada dalam menjalani apa yang telah ditakdirkan untuk Anda.

 

 Foto: Tetyana Kovyrina   - Pexels.com