Fashion tidak pernah benar-benar mengenal batas. Sebuah teknik tekstil dapat berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya, sebuah siluet dapat menemukan makna baru ketika bertemu budaya lain, dan bahkan sebuah gagasan yang lahir dari Indonesia dapat menemukan ruangnya di panggung dunia. Namun, membawa fashion Indonesia melampaui batas geografisnya membutuhkan lebih dari sekadar kreativitas. Ada pengetahuan yang perlu dibangun, jejaring yang perlu diperluas, pengalaman yang perlu dijalani, dan ruang untuk terus mempertanyakan ke mana sebuah karya ingin dibawa.
Di titik inilah PINTU Incubator menemukan relevansinya. Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, PINTU kembali memperkuat hubungan fashion Indonesia dan Perancis melalui pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan, kolaborasi kreatif, serta pengalaman lintas budaya. Sejak diluncurkan pada 2022, program ini telah menarik minat lebih dari 10.000 brand dan desainer. Tahun ini, 39 pendaftar mengikuti proses seleksi, sepuluh di antaranya terpilih untuk mengikuti program inkubasi, sebelum lima peserta akhirnya mendapat kesempatan mempresentasikan koleksi mereka di JF3 Fashion Festival 2026.
.png)
Dari kiri ke kanan: Dino Augusto (Moderator), Carol Meyer (Cultural Attache at the French Embassy in Indonesia and Representative of Institut Français d'Indonésie), Thresia Mareta ( Co-Initiator PINTU dan Founder LAKON Indonesia), Bpk. Soegianto Nagaria (Chairman of JF3 & Co- Co-Initiator PINTU).
Namun, PINTU tidak pernah sekadar tentang siapa yang berhasil sampai ke runway. Bagi Thresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator sekaligus Founder LAKON Indonesia, esensinya justru berada pada proses yang terjadi sebelum sebuah koleksi diperkenalkan kepada publik.
“Kami percaya bahwa talenta tidak selalu tumbuh karena diberi lebih banyak jawaban. Sering kali, mereka justru berkembang ketika dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat,” tuturnya saat kami jumpai dalam press conference PINTU Incubator di JF3 Media Lounge, 20 Juli lalu.
Pemikiran tersebut terasa dalam bagaimana program ini disusun. Selama proses inkubasi, para peserta tidak hanya berbicara tentang koleksi, tetapi juga mempelajari hal-hal yang menentukan apakah sebuah brand mampu bertahan setelah lampu runway padam. Sebanyak 39 sesi pengembangan kapasitas membahas strategi bisnis, merchandising, pengembangan produk, komunikasi, hukum dan kekayaan intelektual, ekspor-impor, finansial, hingga styling. Mereka juga mendapat kesempatan belajar dari 18 mentor Indonesia dan Prancis dengan latar belakang yang beragam, dari desain dan bisnis hingga ritel, hukum, komunikasi, pemasaran, dan industri kreatif.
Pada akhirnya, proses tersebut menggeser cara melihat fashion: dari sekadar membuat pakaian menjadi membangun sebuah praktik kreatif yang memiliki arah. Saul Studio, Toja House, ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA datang dengan bahasa masing-masing; eksplorasi konstruksi dan tailoring, pengembangan aksesori bersama artisan, reinterpretasi tekstil Nusantara, pendekatan genderless, praktik upcycling, hingga penekanan pada craftsmanship, inklusivitas, dan tanggung jawab dalam proses produksi.

Koleksi PINTU Incubator dipresentasikan dalam rangkaian JF3 Fashion Festival 2026 pada 23 Juli lalu.
Di antara perbedaan tersebut, ada satu benang merah yang terasa: keinginan untuk membawa identitas Indonesia tanpa menjadikannya sekadar ornamen. Sebab, mungkin, menjadi relevan di dunia bukan berarti mengubah apa yang membuat sebuah brand berbeda. Justru sebaliknya, ia harus terlebih dahulu memahami apa yang membuat dirinya memiliki karakter, sebelum menemukan bahasa yang dapat diterima oleh audiens yang lebih luas.
Jika Incubator membangun fondasi, maka Accelerator membuka pintu yang lebih dekat menuju dunia internasional.
Melalui jalur ini, DENIMITUP mengembangkan kolaborasi bersama label Prancis TAREET, mempertemukan dua pendekatan kreatif dalam proses pengembangan koleksi. Di sisi lain, Lil Public mendapat kesempatan berpartisipasi dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli 2026.
.png)
Koleksi LIL PUBLIC, peserta PINTU Accelerator, yang dipresentasikan dalam rangkaian JF3 Fashion Festival 2026 pada 23 Juli lalu.
Pengalaman semacam ini memberi arti baru pada istilah “go international”. Paris tidak lagi hanya menjadi sebuah destinasi, melainkan ruang untuk menguji gagasan. Ketika sebuah brand masuk ke ekosistem yang berbeda, ia bertemu dengan cara kerja, perspektif, dan kemungkinan baru. Dari sana, proses berkembang tidak selalu berarti menemukan jawaban, tetapi belajar melihat karya sendiri dari sudut yang sebelumnya belum pernah terpikirkan.
Lalu ada Residency, bagian yang mungkin terasa paling personal dari keseluruhan perjalanan PINTU.
Memasuki penyelenggaraan keduanya, PINTU Residency mempertemukan dua desainer Indonesia dan dua desainer Prancis dalam sebuah residensi selama empat bulan. Dari April hingga Juli 2026, mereka menjalani riset bersama, mengeksplorasi teknik tekstil tradisional, bekerja langsung dengan komunitas artisan, serta mengembangkan koleksi melalui pertukaran pengetahuan dan budaya.
Di Lombok, Mickaël Nana berkolaborasi dengan Beatrice Angelica untuk melahirkan GARUDA. Tailoring Barat dipertemukan dengan tenun dan songket Lombok, sementara simbol Garuda ditafsirkan kembali sebagai representasi kekuatan, kebebasan, dan identitas. Di Mojokerto, Lisa Rayar dan Gabriel Marcella mengembangkan AU LARGE, sebuah dialog antara tradisi maritim Prancis dan budaya pesisir Jawa melalui batik, struktur tailoring, serta referensi seragam dalam siluet kontemporer.

Koleksi PINTU Residency dipresentasikan dalam rangkaian JF3 Fashion Festival 2026 pada 23 Juli lalu.
Namun, apa yang kami lihat pada re-see PINTU Residency di JF3 Fashion Festival pada 27 Juli lalu bukan sekadar hasil akhir dari sebuah program residensi. Ada perjalanan panjang yang terasa di balik setiap material dan konstruksi yang hadir.
Saat kami berbincang dengan Mickaël dan Beatrice, keduanya kembali mengingat bagaimana proses bersama para penenun Lombok perlahan mengubah cara mereka melihat sebuah kain. Menghabiskan waktu di tengah komunitas lokal, mereka mengikuti tahapan pengerjaan dari mempersiapkan benang hingga membentuk motif yang rumit. Lebih dari mempelajari teknik, pengalaman tersebut membawa mereka memahami cerita budaya yang tersimpan di balik setiap helai.

Mickaël Nana dan Beatrice Angelica, peserta PINTU Residency, saat ditemui dalam sesi re-see koleksi PINTU Residency pada 27 Juli lalu.
“Kami belajar untuk tidak hanya melihat tenun sebagai sebuah material, tetapi memahami bagaimana ia dibuat, siapa yang membuatnya, dan cerita apa yang dibawa di dalam setiap motifnya,” ujar Beatrice.
Bagi Mickaël, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam menemukan arah GARUDA. “Ada banyak hal yang tidak bisa kami pelajari hanya dengan melihat hasil akhirnya. Ketika kami ikut berada dalam prosesnya, kami mulai memahami nilai dan kesabaran yang ada di balik setiap kain,” tuturnya.
Pada titik itu, GARUDA tidak lagi sekadar menjadi pertemuan antara tailoring Barat dan tekstil Lombok. Ia menjadi hasil dari sebuah proses yang tumbuh perlahan; dari riset, percakapan, tangan para artisan, hingga pertukaran cara pandang antara dua desainer dengan latar belakang yang berbeda.
“Koleksi ini tidak langsung terbentuk sejak awal. Idenya tumbuh sedikit demi sedikit selama kami menjalani prosesnya,” kata Beatrice.
Di sanalah keberadaan kekuatan seluruh program PINTU terasa. Kolaborasi tidak berhenti pada pertukaran estetika, tetapi memberi kesempatan bagi para desainer untuk duduk bersama material, teknik, artisan, dan budaya yang mungkin sebelumnya berada di luar pengalaman mereka. Ia menciptakan ruang dialog yang tidak terburu-buru. Sebuah ruang yang melampaui batas geografis untuk mendengar sebelum menerjemahkan.
Pada akhirnya, Incubator, Accelerator, dan Residency menawarkan tiga cara berbeda untuk membuka pintu menuju dunia. Yang pertama membangun fondasi. Yang kedua memperluas akses dan jejaring. Sementara yang ketiga mempertemukan dua budaya melalui proses kreatif yang lebih intim.
Namun, ketiganya berbicara tentang hal yang sama: bahwa perjalanan menuju panggung global tidak harus dimulai dengan meninggalkan akar.
Mungkin, inilah arti sebenarnya dari melampaui batas. Bukan tentang membuat fashion Indonesia terlihat seperti bagian dari dunia yang lain, tetapi tentang memastikan bahwa ketika ia berjalan ke luar negeri, ia tetap tahu dari mana ia berasal.
Kini, PINTU tengah memulai proses pembentukan Yayasan PINTU Incubator Indonesia, sebuah langkah yang diharapkan dapat memperkuat kesinambungan program sekaligus memperluas dampaknya bagi ekosistem mode Indonesia.
Sebab masa depan fashion Indonesia barangkali bukan hanya tentang seberapa jauh sebuah brand dapat pergi, tetapi seberapa kuat ia berdiri ketika akhirnya sampai di sana.
Foto: Dokumentasi Resmi BRI - JF3 Fashion Festival 2026