Menjadi seorang introvert tetapi harus hidup di ruang lingkup pekerjaan yang extrovert bukanlah suatu yang mudah. Kiranya itulah yang saya hadapi selama bertahun-tahun. Bulan Agustus dan September ini menjadi bulan-bulan yang dipenuhi dengan rangkaian event fashion. Dan setiap perhelatan fashion show yang bertubi-tubi ini membuat setiap orang yang ditemui dalam industri tersebut menjadi berkali-kali.
Tentunya saja pertemuan dengan manusia-manusia industri gaya hidup, akan janggal jika tanpa basa-basi. Dari mulai mengucapkan kalimat “Hallo apa kabar?” kemudian mengalir kesana kemari. Nah artinya suatu pembicaraan tak hanya berhenti pada semenit pertama, melainkan bermenit-menit. Nah, bayangkan jika hal tersebut harus dilakukan berulang kali pada pertemuan event yang berhari-hari.
Nah, sementara event perhelatan mode yang berlangsung di kota Jakarta saat ini sudah lebih dari satu bulan. Sebagai seorang yang memang terlahir extrovert, mungkin tidak ada masalah dengan hal tersebut. Karena bertemu orang adalah suatu pencerahan buat mereka. Ibarat sebuah batu baterai yang baru di charge, maka semakin bertemu orang banyak semakin full energy pulalah mereka. Sementara berbeda dengan mereka yang terlahir introvert, maka semakin banyak bertemu dengan banyak orang, semakin terkuras pula social battery-nya.
Maka jika bulan September selama ini diibaratkan tahun baru-nya para khalayak mode, maka buat para mereka yang introvert, momentum ini adalah ibarat bulan cobaan buat mereka. Apakah setiap tahunnya lulus menghadapi cobaan tersebut, ataukah gagal melewatinya.
Saya sendiri sebagai orang yang introvert apada awalanya kerap kali tersiksa setiap bulan September itu datang, tetapi apa boleh buat. Saya telah berkomitmen untuk bekerja di Industri Fahion, jadi apa yang harus dilalui, ya harus dilewati. So choose your own battle.
Foto: Ersamaster 26 – Pexels.com