Prasangka Buruk

Common Sense

Sesungguhnya dalam kitab suci manapun sudah dituliskan bahwa berprasangka buruk sebenarnya sangat lah dilarang. Namun bagaimana cara mengontrol alur pemikiran dan intuisi hati yang tidak dapat dilihat wujudnya secara fisik atau apapun. 

 

Apa yang membuat seseorang selalu terjebak dalam prasangka buruk? Berdasarkan yang saya lihat dalam keseharian, seseorang dapat terbawa dalam prasangka buruk adalah dikarenakan kurangnya interaksi dengan dunia luar, dan banyak orang. Sehingga yang ia lihat dalam kesehariannya adalah dirinya dan masalahnya. Kondisi seperti ini tanpa tersadari menumpuk hari demi hari hingga akhirnya mengendap. Layaknya lantai yang kotor, dan tidak dibersihkan maka lama kelamaan akan berubah warnanya. Maka seperti itulah pikiran dan hati manusia.

 

Yang kedua adalah kurangnya kesibukkan. Dengan banyaknya waktu senggang dalam keseharian, maka menyebabkan seseorang tersebut semakin memiliki waktu banyak untuk membanding-bandingkan segala sesuatu hal yang tak perlu, selain itu prasangka buruk tersebut akan melebar menjadi sebuah analisa akan kekurangan dan kesalahan orang. Dari prilaku tersebutlah semakin meluas menjadi timbulnya rasa benci dan terparahnya lagi menjadi mempergunjingkan hingga menjadi fitnah.

 

Ketiga. Prasangka buruk bisa pula timbul akibat trauma masa lalu yang belum selesai. Sehingga meninggalkan kesan atau luka tersendiri, terhadap kekecewaan yang pernah dialami.

 

Keempat seseorang jadi memiliki pikiran/prasangka buruk apabila kondisi hatinya tidak bahagia. Yang mana dalam hal ini bisa saja dipicu oleh ketidaklengkapannya faktor-faktor kebahagiaan seseorang dalam hidupnya. Misalnya kekurangan uang/pendapatan, kebutuhan biologis (seks) yang kurang, kurangnya perhatian dan kasih sayang dari pasangan, keluarga, atau teman. Yang mana faktor tersebut sangat mempengaruhi mood perasaan seseorang dalam menjalankan kesehariannya. 

Photo: Mart Production - Pexels.com

Rangakaian prasangka buruk yang tak segera dibatasi ini pun akhirnya dapat menyelimuti seseorang, sehingga orang tersebut menjadi mempunyai outcome kepada orang disekelilingnya menjadi tidak baik. Maka tak heran jika akhirnya orang tersebut menjadi dijauhi, tidak diharapkan keberadaannya bahkan terparahnya adalah dibenci oleh orang lain.

 

Namun apakah ada cara jitu untuk mengontrol perasaan dan pikiran tak menyenangkan itu? Bagaimana seseorang itu dapat memberikan perasaan kebahagiaan kepada orang lain, apabila ia sendiri tidak terpenuhi bahkan kosong?

 

Sampai saat ini pun saya masih mencari jawabannya. Kendati mendekatkan diri kepada Sang Pencipta adalah jawabannya, namun namanya manusia masih saja selalu lupa. Detik ini berserah diri, berkata ikhlas, dan berjanji untuk tak ingin lagi berprasangka buruk, tetapi 2 menit kemudian pikiran negatif tersebut datang lagi dan mengulangi berprasangka buruk lagi. Maka mulai detik ini tanamkan pada diri Anda bahwa tidak ingin menjadi negative person, berprasangka buruk dan lainnya. Karena untuk memiliki pikiran negatif dan berprasangka buruk sebenarnya sudah sangat menghabiskan energi, bahkan melelahkan pikiran. Setuju kan dengan saya?!